Fiqih Jual Beli, Ada Ilmu yang Harus Diketahui

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa lepas dari melakukan transkasi jual beli. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui ilmu tentang jual beli agar tidak terjatuh kepada jual beli yang dilarang. Terlebih lagi jika kita seorang pelaku usaha.

Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu berkata,

لاْ يَبِعْ فِيْ سُوْقِنَا إِلاْ مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِيْ الدِّيْنِ

“Tidak boleh jual beli dipasar kita kecuali seseorang yang memahami bimbingan agama.” (HR. at Tirmidzi no 487 beliau berkata hasan gharib. Dan dihasankan oleh syaikh al Albani di shahih at Tirmidzi)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Sungguh, setiap muslim wajib memahami semua hal yang ia perlukan dalam praktik beragama, seperti tentang tata cara bersuci, shalat, dan puasa. Bagi yang memiliki harta, ia wajib memahami tentang zakat, nafkah, haji, dan jihad. *Demikian pula bagi yang melakukan aktivitas jual beli, ia wajib mempelajari jual beli yang dihalalkan dan yang diharamkan.”*
(Majmu’ Rasail Ibni Rajab 1/22)

Berikut ini penjelasan secara singkat tentang rukun dan syarat jual beli.

*Pengertian Jual Beli*

Jual beli adalah tukar menukar harta dengan harta yang lain -walaupun dalam tanggungan- atau tukar-menukar manfaat yang mubah untuk selama-lamanya tanpa unsur riba dan pinjaman. (Fiqih Muyassar)

*Hukum Jual Beli*

Jual beli hukumnya boleh.

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman,

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ

“Dan Allah menghalalkan jual beli.” (Al-Baqarah: 275)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا،

“Dua orang yang bertransaksi jual-beli itu punya hak khiyar (memilih) selama belum berpisah.” (HR. al-Bukhari)

*Para ulama sepakat tentang bolehnya jual beli*

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Kaum Muslimin sepakat bolehnya jual beli secara umum” (Al Mughni: 6/5)

*Rukun Jual Beli*

Rukun jual beli ada tiga:

1. Orang yang melakukan akad/transaksi yaitu penjual dan pembeli.

2. Objek transaksi yaitu sesuatu yang diperjualbelikan.

3. Shigat adalah ijab dan kabul.

Ijab adalah kata-kata yang diucapkan oleh penjual seperti ucapan, “Aku menjual barang ini”.
Kabul adalah kata-kata yang diucapkan pembeli seperti ucapan, “Saya membeli barang ini”.
Itu sighat dalam bentuk ucapan.

Adapun sighat dalam bentuk perbuatan yaitu serah terima. Dimana pembeli menyerahkan uang sesuai harga barang kepada penjual, lalu penjual menyerahkan barang tersebut kepada pembeli tanpa mengucapkan kata-kata.” (Fiqih Muyassar)

*Syarat-syarat Jual Beli :*

1. Adanya keridhaan antara penjual dan pembeli

2. Orang yang mengadakan transaksi jual beli seseorang yang dibolehkan untuk membelanjakan harta. Yaitu orang yang baligh, berakal, merdeka dan rasyiid (bisa mengelola harta dengan baik).

3. Penjual adalah seorang yang memiliki barang yang akan dijual atau yang menggantikan kedudukan pemiliknya, seperti orang yang diwakilkan untuk menjual barang.

4. Barang yang di perjualbelikan adalah barang yang mubah (boleh) untuk diambil manfaatnya tanpa suatu hajat, seperti makanan, minuman, pakaian, kendaraan, properti (tanah dan rumah) dan yang semisalnya.

5. Barang yang diperjualbelikan bisa diserah terimakan. Tidak boleh menjualbelikan barang yang tidak bisa diserah terimakan. Seperti menjual burung yang masih terbang, anak hewan yang masih dalam perut induknya, binatang yang kabur dan yang lainnya.

6. Barang yang diperjualbelikan adalah sesuatu yang diketahui oleh penjual dan pembeli, dengan cara melihatnya pada saat akad jual beli atau dengan dijelaskan sifat-sifat barang tersebut yang membedakan dengan barang yang lain.

7. Harga dan nilai barang harus diketahui dengan pasti. (Fikih Muyassar dengan diringkas).

Itulah penjelasan sederhana tentang jual beli, rukun dan syaratnya semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bish shawwab.

(Abdullah al Jakarty-18012021)

Sumber Bacaan:

1. Fiqih Muyassar
2. Majalah Asy Syariah edisi 111
3. Bisnis Online, Ustadz Afifudin.
4. Dll.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *