Hukum Mengkritik Pemerintah di Medsos Terkait Penanganan Covid-19..?

Maraknya kritikan di medsos, bahkan celaan dan umpatan kepada pemerintah kaum muslimin terkait penanganan pandemi covid-19 menjadi permasalahan tersendiri. Bersamaan dengan butuhnya kita untuk bekerja sama menanggulangi wabah ini sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya masing-masing.

Lalu bagaimana hukum orang yang mengkritik, atau menasehati penguasa kaum muslimin secara terang-terangan dalam agama kita…?

Cara yang benar dalam menasehati penguasa adalah dengan cara yang penuh lemah lembut, penuh dengan hikmah dan sembunyi-sembunyi, tidak dengan terang-terangan.

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada Nabi Musa dan Harun ‘Alaihissalam untuk mengatakan kepada Fir’aun ucapan yang lembut padahal Fir’aun tergolong orang terjahat dan terkafir.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)

Adapun dalil tentang nasihat dilakukan secara rahasia, tidak didepan umum adalah hadits nabi, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْابِهِ فَإِنْ قُبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati penguasa hendaknya tidak menampakkannya terang-terangan, tetapi ia memegang tangannya lalu menyepi dengannya. Apabila penguasa itu menerimanya, itulah (yang diharapkan). Jika tidak, dia telah menjalankan apa yang menjadi kewajibannya.”
( HR . Ibnu Abi ‘Ashim, dinyatakan sahih sanadnya oleh asy-Syaikh al-Albani di Dzhilal al Jannah fi takhirijis sunnah:2/521-522)

Cara yang seperti ini, di samping merupakan petunjuk agama, juga akan menjadikan nasihat lebih mudah diterima karena penguasa tidak merasa dicemarkan namanya. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang menasihati penguasa terang-terangan dan membeberkan kesalahan mereka di mimbar-mimbar, melalui surat terbuka yang bisa dibaca oleh semua orang, atau disiarkan melalui media sosial, tentu sangat bertentangan dengan bimbingan Nabi shallallahu alaihi wasallam yang mulia.

Berkata Asy-Syaikh Al Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah,

“Bukan cara salaf (generasi awal umat Islam yang terbaik) menyebarkan kekurangan-kekurangan penguasa dan membeberkannya di mimbar-mimbar. Sebab, hal itu bisa menyulut kudeta, tidak didengar dan tidak ditaatinya pemerintah dalam hal yang baik, serta mengarah kepada pemberontakan yang membawa madarat, bahkan tidak ada manfaatnya. Akan tetapi, cara yang tepat menurut salaf adalah memberikan nasihat (secara tertutup) antara mereka dan penguasa, mengirim surat kepadanya, atau menghubungi ulama yang bisa menyampaikan kepada penguasa sehingga penguasa tersebut akan dibimbing kepada kebaikan.” (Mu’malatul Hukkam karya, Abdus Salam Barjas hlm. 43)

Oleh karena itu wahai kaum muslimin, saya mengajak kepada diri saya pribadi dan kita semua untuk menguatkan keshabaran dalam menghadapi musibah ini, mentaati pemerintah dalam perkara yang baik, tidak mencela dan mengumbar aibnya di medos dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri kita dan orang lain dalam mencegah wabah covid-19 ini agar tidak semakin menyebar.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. (YBI-AJ/05/20)

www.yukbelajarislam.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *