Hukum Perkataan Dewi Fortuna Tidak Bersama Kita

Mungkin diantara  kita pernah mendengar atau sering mendengar salah seorang  berkata ”dewi fortuna tidak bersama kita” perkataan yang singkat tapi tidak sesingkat hukum dan konsekuensinya.

Perkataan ini sangat berbahaya bagi aqidah seorang muslim. Karena menyandarkan yang memberi manfaat, salah satu bentuk manfaat adalah keberuntungan kepada selain Allah. Dan ini termasuk perkataan syirik yang besar. Dosa besar yang paling besar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sungguh seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang menyebabkan kemurkaan Allah dalam keadaan dia tidak peduli dengan ucapan tersebut sehingga menyebabkan dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. al-Bukhari).

Mungkin ada yang bertanya dari sisi mana dikatakan perkataan syirik … ???

Untuk memudahkan mengetahui perkataan tersebut merupakan kesyirikkan, penting bagi kita untuk mengetahui makna syirik.

Berikut makna dari syirik,

Berkata Al Imam Syaukani Rahimahullah:

”Bahkan syirik adalah dengan menujukan untuk selain Allah sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Nya.“ (Daurun Nadid Fi Kalimatil Ikhlas, hlm 18)

Berkata Asy Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafidzahullah:

”Syirik adalah menjadikan sekutu (atau tandingan) bagi Allah didalam Rububiyah dan UluhiyahNya.” (Aqidah Tauhid, hlm 18)

Lalu dimana letak syirik perkataan dewi fortuna tidak bersama Allah…?

Dikarenakan perkataan dewi fortuna tidak bersama kita, sebuah perkataan yang menyandarkan yang memberikan manfaat atau keberuntungan kepada selain Allah. Bukankah yang memberikan manfaat atau keberuntungan dan yang menolak kemudhorotan atau bahaya hanyalah Allah semata. Bukankah  itu merupakan kekhususan Rububiyah Allah. Bukankah Allah berfirman menjelaskan tentang hal itu,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ

”Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tak ada yang dapat menolak karuniaNya.“ (Yunus : 107)

Dalam ayat yang lain Allah Ta’aala berfirman,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikkan kepada mu, maka Dia Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu ” (Al-An’am : 18)

Kalau yang memberikan manfaat atau keberuntungan dan menolak mudhorot atau bahaya hanyalah Allah dan hal ini merupakan kekhususan Rububiyah Allah maka menyandarkan kepada selain Allah termasuk perbuatan syirik. Bahkan perbuatan syirik akbar (yang besar) yang mengeluarkan pelakunya dari islam.

Maka jelaslah perkataan diatas termasuk perkataan syirik.

Belum lagi makna dewi fortuna yang sering dikatakan tersebut, adalah keyakinan syirik dan kufurnya orang-orang Yunani yang mempertuhankan dan menganggapnya sebagai dewa yang memberikan keberuntungan.

Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan kesyirikkan.

Wallahu a’lam bish shawwab.

 

‘Abdullah al Jakarty

www.yukbelajarislam.com

(YBI-AJ/02/20)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *