Besarnya Dosa Ghibah

Terkadang seseorang tidak terasa telah menggibahi saudaranya. Bersamaan dia menyakini haramnya ghibah. Oleh karena itu, pentingnya untuk mengingat-ngingat besarnya dosa ghibah. Dan memahami lebih jauh permasalahan ghibah. InsyaAllah tulisan berikut ini akan menjelaskan tentang ghibah secara ringkas dengan harapan agar kita lebih berhati-hati agar tidak terjatuh pada perbuatan tersebut.

Apa itu ghibah…?

Ghibah adalah menceritakan seseorang kepada orang lain dan orang yang dijadikan obyek pembicaraan tidak menyukai apa yang dibicarakan. Bila apa yang diceritakan tidak ada pada orang tersebut, ini merupakan dusta atas namanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan ghibah?”

Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Beliau bersabda, “Kamu menceritakan tentang saudaramu apa yang tidak dia sukai.”

Dikatakan kepada beliau,

“Bagaimana pendapatmu bila apa yang aku katakan ada pada saudaraku itu?”

Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan ada pada saudaramu maka kamu telah mengghibahinya, dan jika apa yang kamu katakan tidak ada pada dirinya, maka kamu telah berdusta.” (HR. Muslim)

Dalil besarnya dosa ghibah

Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيم

“Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (al-Hujurat: 12)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ketika aku dibawa naik, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga yang dengannya mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah kaum yang telah memakan daging orang lain dan menginjak-injak kehormatan mereka’.”  (HR. Abu Dawud, dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Kapan Boleh Menggibah..?

Dibolehkan ghibah pada enam perkara:

1. Ketika terzalimi.

2. Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran.

3. Meminta fatwa.

4. Memperingatkan kaum muslimin dari sebuah kejahatan atau untuk menasihati mereka.

5. Ketika seseorang menampakkan kefasikannya.

6. Memanggil seseorang yang dia terkenal dengan nama itu. (Silahkan lihat Riyadhus Shalihin)

Itulah penjelasan singkat tentang ghibah. Semoga Allah menjaga kita darinya.

Wallahu a’lam bis shawab (AJ)

Admin yukbelajarislam.com

Channel Telegram:

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *