Dengan Melihat Hilal atau Hisab Falaki Seseorang Mulai Berpuasa Dibulan Ramadhan…??

Awal mulai seseorang berpuasa di bulan ramadhan adalah dengan terlihatnya hilal (rembulan yang terlihat pada awal bulan).

Kalau tidak terlihat hilal disempurnakan bulan sya’ban sebanyak tiga puluh hari maka keesokan harinya adalah awal ramadhan. Maka wajib baginya untuk berpuasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Jika terhalangi atas kalian (dari melihatnya –ed), sempurnakanlah bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Caranya pada tanggal 29 Sya’ban setelah matahari terbenam hendaknya dilakukan pemantauan hilal. Selang beberapa saat, apabila hilal terlihat maka masuk 1 ramadhan jika tidak terlihat maka digenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Dan keesokkanya adalah awal ramadhan karena dalam syari’at kita jumlah hari dalam sebulan hanya tiga puluh hari.

Bukan dengan perhitungan hisab falaki. Sebagaimana dijelaskan oleh banyak para ulama. Diantaranya syaikh Ibnu Utsaimin.

Berkata asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah,

“Puasa tidak menjadi wajib hukumnya dengan berdasarkan ketentuan hisab (falaki) walaupun para pakar ilmu hisab telah menetapkan bahwa malam ini merupakan bagian dari Ramadhan padahal kaum muslimin tidak berhasil melihat Hilal, maka tidak boleh berpuasa. Karena syari’at (Islam) mengaitkan hukum puasa berdasarkan sesuatu yang bisa dicapai oleh indera manusia, yaitu berdasarkan ru’yatul hilal (melihat hilal).” (Asy-Syarhul Mumti’ jilid 6 hlm. 314).

 

Admin yukbelajarislam.com

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *