Untukmu yang Bertanya Tentang Hukum Tato

Hukum tato adalah adalah haram, bahkan termasuk perbuatan dosa besar.

 

Berkata al Imam Adz Dzahabi rahimahullah,

“Dosa besar ke 60 adalah wanita yang menyambung rambut, merenggangkan gigi dan mentato tubuhnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللهُ الوَاصِلَةَ وَالمُسْتَوْصِلَةَ، وَالوَاشِمَةَ وَالمُسْتَوْشِمَةَ …

“Allah melaknat wanita yang menyambung rambut dan yang minta disambungkan rambut, serta wanita yang menato dan yang minta ditato…” (Muttafaq Alaih)….” (al Kabair)

 

asy Syaikh Shalih al Fauzan pernah di tanya tentang hukum tato, beliau menjawab,

“Tato adalah haram dan merupakan salah satu dosa besar, karena Rasulullah n melaknat Al-Wasyimah (yang mentato) dan Al-Mustausyimah (yang minta orang lain untuk mentatokan tubuhnya).

Semuanya terlaknat melalui lisan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dengan demikian, tato itu haram dalam Islam dan merupakan salah satu dosa besar.

Hal itu juga termasuk mengubah ciptaan Allah Ta’aala yang telah dijanjikan oleh setan di mana ia akan memerintahkan kepada orang yang menjawab seruannya dari kalangan bani Adam, sebagaimana firman Allah Ta’aalla,

وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ

“Dan aku pasti akan memerintahkan mereka untuk mengubah ciptaan Allah.” (An-Nisa`: 119)

Maka tato adalah perkara yang tidak boleh dilakukan, tidak boleh didiamkan, dan wajib dilarang. Juga diperingatkan darinya serta diterangkan bahwa itu adalah salah satu dosa besar. Orang-orang pada mentato dirinya tak ketingalan para remajanya

Dan orang yang dibuatkan tato, kalau itu dengan kemauannya dan dengan sukarela, maka ia berdosa dan wajib baginya untuk bertobat kepada Allah Ta’aala dan agar menghilangkan tatonya bila mampu.

Adapun bila itu dibuatkan tanpa melakukannya sendiri dan tanpa ridhanya, seperti jika dilakukan atasnya semasa kecil, saat belum paham, maka dosanya atas yang melakukannya.

Namun bila memungkinkan untuk dihilangkan, dia wajib menghilangkannya. Tapi jika tidak mungkin maka ia dapat udzur dalam keadaan semacam ini.” (dinukil dari kumpulan fatwa beliau, Al-Muntaqa hal. 249).

Wallahu a’lam bish shawwab. (AJ)

Admin yukbelajarislam.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *