Benarkah Islam Menghancurkan Hak Perempuan?

Pertanyaan:

Tersebar di kalangan sebagian orang yang mengikuti racun yang dihembuskan musuh-musuh Islam ucapan seperti “Islam itu menghancurkan hak perempuan berdiam di rumah sehingga separuh dari masyarakat menjadi pengangguran.”

Apa bantahan terhadap syubhat seperti ini?

Fadilatusy Syaikh Al-Imam Muhammad Ibnu Shalih al Utsaimin Rahimahullah menjawab,

“Menurut saya, ucapan tersebut tidak keluar kecuali dari lisan orang yang bodoh tentang syariat, bodoh tentang Islam, dan bodoh tentang hak perempuan.

Sebaliknya, dia justru kagum terhadap akhlak dan jalan hidup musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala yang jauh menyimpang dari kebenaran.

Agama Islam, Alhamdulillah, tidaklah menghancurkan hak perempuan.

Islam adalah agama yang memiliki hikmah, menempatkan setiap orang pada tempatnya.

Pekerjaan yang sesuai bagi perempuan adalah pekerjaan dalam rumahnya.

Dia diperintah untuk tetap tinggal di dalam rumahnya adalah untuk menjaga hak suaminya, mendidik anak-anaknya, dan mengurusi pekerjan-pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan tersebut sangat pas baginya.

Adapun lelaki, dia memiliki pekerjaan khusus yang dengan itu dia harus keluar rumah untuk mencari rezeki dan memberikan kemanfaatan kepada umat.

Perempuan yang tinggal di rumahnya akan memberikan kemaslahatan kepada suami dan anak-anaknya. Memberi maslahat kepada suami adalah pekerjaan yang cocok bagi perempuan. Selain itu, menetap di rumah akan menjaga dirinya, memelihara dan menjauhkannya dari kekejian, yang tidak akan diperoleh apabila dia keluar rumahnya dan berserikat dengan lelaki dalam pekerjaan.

Sudah terbukti, ketika perempuan bersama-sama lelaki dalam pekerjaan, akan timbul kemudharatan, sampaipun pada pekerjaan si lelaki. Sebab, tabiat lelaki itu berhasrat dan berkeinginan (punya kecendrungan dan kesenangan) pada perempuan. Apabila ada perempuan yang bekerja bersamanya, perasaannya akan tersibukkan dengan si perempuan, lebih-lebih lagi apabila si perempuan masih muda dan cantik. Bisa-bisa si lelaki lupa akan tugasnya, atau bisa melakukan pekerjaannya tetapi tidak sempurna (¹).

Siapa yang memerhatikan (membaca dan menelaah) keadaan kaum muslimin pada generasi awal umat ini, dia akan tahu bagaimana mereka menjaga dan memelihara perempuan mereka. Bagaimana pula mereka demikian sempurna menangani pekerjaan/tugas mereka! (²)”

(Alfazh wa Mafahim fi Mizan asy-Syariat, hlm. 72-73)

¹) Karena pikirannya terpecah tidak semata pada pekerjaannya, tetapi kepada perempuan yang bekerja bersamanya.

²) Karena tidak terganggu dengan keberadaan perempuan.

Dikutip dari : Majalah Asysyariah edisi no 85/VII/1434H/2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *