5 Hal Penting Tentang Akikah

Permasalahan akikah diantara permasalahan yang sering ditanyakan. InsyaAllah pada kesempatan ini kita akan membahas tentang akikah. Berikut ini 5 hal penting tentang akikah untuk diketahui,

Pertama: Pengertian Akikah:

Akikah adalah binatang yang disembelih pada hari ketujuh kelahiran bayi.

Kedua: Hukum Akikah

Tentang hukumnya para ulama berbeda pendapat, mayoritas ulama berpendapat hukumnya sunnah. Sebagian lagi berpendapat hukumnya wajib. Terlepas dari perbedaan pendapat seyogyanya seorang muslim untuk tidak meninggalkannya apabila ia mampu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

”Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur habis rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil)

Ketiga: Waktu Akikah

Waktu penyembelihan akikah adalah pada hari ketujuh dihitung dari hari kelahirannnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, disembelih baginya pada hari ketujuh dan ia diberi nama serta digunduli kepalanya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh syaikh Al Albani).

Apabila tidak mampu menyembelih pada hari ketujuh, dia menyembelih kapan saja ia mampu.

Keempat: Binatang yang disembelih pada Akikah.

Untuk laki-laki menyembelih dua ekor kambing.
Untuk anak perempuan satu ekor kambing.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

“Disembelih dua ekor kambing yang setara bagi seorang anak laki-laki dan seekor kambing untuk seorang anak perempuan.” (HR. at-Tirmidzi, di shahihkan oleh syaikh Al Albani)

Kelima: Membagikan Daging Akikah

Daging akikah diberikan kepada para tetangga dan orang-orang miskin. Orang yang mengakikahi dan keluarganya diperbolehkan memakan sebagian daging tersebut. Daging akikah boleh dibagikan dalam keadaan masih mentah atau sudah matang. Bahkan, boleh juga dimasak dengan dicampur sesuatu selain daging akikah. Hanya saja, dibagikan dalam keadaan matang tentu lebih baik karena tidak merepotkan para tetangga dan orang-orang miskin untuk memasaknya. Dengan demikian, diharapkan mereka lebih senang karena tidak perlu repot memasaknya. (lihat Tuhfatul Maudud, 50-55). Wallahu a’lam bish shawwab. (AJ)

Admin yukbelajarislam.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *